'Tadabbur' Pintu Kefahaman

on Thursday, January 27, 2011


Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam menghabiskan sebahagian besar waktunya di hadapan ‘mushaf’ untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an dan mengkhatamkannya berulang kali, bahkan saling berlumba-lumba untuk mengkhatamkan sebanyak-banyaknya.

Tidak diragukan lagi usaha seperti ini mengandungi tujuan yang positif dari beberapa seginya seperti :
  1. Perhatian kaum muslimin terhadap kitab suci mereka.
  2. Kecintaan dan keterikatan mereka terhadapnya.
Namun, sangat sayang sekali bahwa yang menjadi pusat perhatian mereka hanya tertumpu kepada huruf-huruf dan lafadz Al-Qur'an sahaja tanpa memahami isi serta makna lafadz tersebut yang boleh menjadikan seseorang istiqamah terhadap perintah-perintah Allah dan berpegang teguh di jalanNya yang lurus sebagaimana firman Allah swt :

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS Al-Isra’ : 9)

Namun ternyata, kita sangat jauh dari apa yang dikehendaki oleh Al-Qur'an.
Sebagai bukti nyata, tatkala seseorang di antara kita membaca ayat demi ayat, surah demi surah dan mengkhatamkan berkali-kali, akan tetapi bacaannya itu tidak meninggalkan jejak pada perilaku dan akhlaqnya.

Bahkan jika kita menanyakan kepada mereka apa yang dapat mereka renungkan dari ayat-ayat yang dibaca, niscaya kita tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa dari mereka bahkan yang penting bagi mereka hanya mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dinilai dengan 10 semisalnya (10 kebaikan), saya tidak mengatakan ‘alif’, ‘lam’, ‘mim’ satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hadits hasan, riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas'ud)

JANGAN SEKADAR MEMBACA

Sebenarnya bukan seperti itu yang diinginkan oleh Rasulullah saw. Kalaulah Al-Qur'an hanya berkaitan dengan banyaknya pahala yang akan kita dapatkan ketika membacanya, maka yang lebih baik adalah kita mengalihkannya kepada amalan lain yang akan memberi kita pahala yang lebih besar lagi sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa masuk ke sebuah pasar kemudian mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illa-llah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoir wa huwa 'ala kulli syaiin qodiir. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi, bagiNya lah segala puji yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia itu hidup tidak akan mati, digenggamanNya lah semua kebaikan dan Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu), dicatat baginya beribu-ribu kebaikan dan dihapus darinya beribu-ribu kesalahan dan dia akan diangkat beribu-ribu darjat dan akan dibangunkan untuknya rumah di syurga” (Hadith di dalam Shahih Jami' As Shaghir)

Ini bukanlah bererti kita meremehkan pahala tilawah Al-Qur'an, akan tetapi, kita ingin meluruskan kembali persepsi terhadap cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur'an bahwa sebenarnya nilai dan barakah Al-Qur'an terdapat pada makna yang dikandungnya, manakala lafadz merupakan wasilah untuk mengetahui maknanya. Oleh kerana itu, Rasulullah saw mengarahkan dan membangkitkan semangat membaca Al-Qur'an dengan diberi pengharapan terhadap pahala yang besar sepertimana sebuah perumpamaan:

‘Seorang ayah yang memberi wang saku untuk anaknya agar dia tekun belajar dalam waktu yang berjam-jam tentu sahaja dia tidak bermaksud agar anaknya hanya duduk di kerusi dan membolak-balikkan halaman buku tanpa mendapatkan kefahaman, akan tetapi tujuan si bapa tadi adalah untuk memberi motivasi agar anaknya terus belajar dengan serius supaya dia menjadi orang yang berjaya dalam hidup.’

Bila kita memperhatikan tujuan utama diturunkan Al-Qur'an dan kita hubungkan antara perumpamaan tadi dengan pahala besar yang diberikan oleh Allah Yang Maha Bijaksana atas bacaan Al-Qur'an tersebut, maka kita akan dapati bahwa tujuan dari pahala-pahala tersebut merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar sentiasa dekat dengan Al-Qur'an supaya :
  1. Kita memperolehi petunjuk dan hidayah melalui Al-Qur'an.
  2. Kita mendapatkan kesembuhan jiwa melalui ubat dan ramuannya.
Adapun kalau kita mendekatkan padanya tanpa tujuan yang jelas kecuali hanya ingin mendapatkan pahala bacaan semata-mata tanpa memperhatikan makna yang dikandungnya, maka amat jelas bahwa kita akan rugi dengan interaksi yang kaku ini dan Al-Qur'an tidak akan menjadi hidayah bagi kita.

TADABBUR, SATU-SATUNYA JALAN

Sebenarnya nash-nash Al-Qur'an sangat jelas dalam menekankan akan kepentingan bertadabbur ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur'an, supaya tadabbur itu dijadikan sebagai wasilah untuk memahami perintah Allah dan mempengaruhi diri kita untuk kemudiannya diamalkan.
Ini sebagaimana firman Allah swt :

"Kitab ini kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran". (QS Shaad : 29)
Firmana Allah lagi :

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS Muhammad : 24)
Untuk memahami pesanan-pesanan Al-Qur'an, kita mestilah membiasakan diri untuk membacanya dengan penuh tadabbur. Oleh kerana itu Rasulullah saw menasihati Abdullah bin Amr bin Ash ra supaya tidak mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari sebagaimana sabda baginda :

"Tidak akan faham seseorang yang membacanya (Al-Qur'an) kurang dari tiga hari." (Hadits dalam Shahih Jami' As Shaghir)

Bukankah kita selalu bersungguh-sungguh untuk memahami setiap perkataan yang kita baca atau kita dengar?
Jadi, mengapa kita tidak praktikkan kaidah ini terhadap Al-Qur'an?
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata :

"Sudah menjadi maklum bahwa setiap perkataan itu, tujuannya untuk dapat difahami, bukan untuk sekadar mengetahui lafadz-lafadznya sahaja, maka Al-Qur'an lebih utama (untuk difahami) dari semua itu."

Perkara ini juga dikuatkan oleh Ustaz Hasan Al-Hudhaibi yang berkata :

"Yang menjadi panduan seseorang dalam tilawah Al-Qur'an bukanlah seberapa banyak ia membacanya, namun sejauh mana ia dapat mengambil manfaat dari hasil bacaannya. Al-Qur'an tidak akan turun sebagai barakah kepada Nabi saw dengan lafadz-lafadz yang tidak bermakna. Sesungguhnya barakah Al-Qur'an itu adalah pada saat kita mengamalkannya, dan saat kita mengambilnya sebagai manhaj hidup yang menerangi jalan orang-orang yang menempuhnya. Maka ketika kita membaca Al-Quran, mestilah diniatkan untuk merealisasikan kandungan makna tersebut dan itu hanya boleh dilakukan dengan mentadabbur ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkannya."

TADABBUR, WASILAH BUKAN TUJUAN

Sudah tentulah seseorang yang menyertai tilawah  di atas dasar kefahaman dan tadabbur sebagaimana Imam Al-Qurtubi menyatakan dalam tafsirnya tentang ayat :

"Apakah kamu tidak mentadabbur Al-Qur'an. Kalaulah ia bukan dari sisi Allah tentu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS An-Nisa’ : 82)
Ia mengatakan :

"Ayat ini menunjukkan atas (hukum) wajibnya mentadabbur Al-Qur'an untuk mengetahui maknanya."

Maka tadabbur Al-Qur'an, sekalipun diwajibkan ke atas para pembacanya atau atas pendengarnya, tetapi tadabbur itu sendiri bukanlah merupakan tujuan utama melainkan ia adalah wasilah untuk membangkitkan kembali mu'jizat agung yang dikandungnya dan merealisasikan mu'jizat itu pada jiwa-jiwa yang menerimanya.

MUKJIZAT YANG TERAGUNG

Kita semua tahu bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan kita merupakan mukjizat yang besar dan agung yang datang dari Allah, lebih agung dari tongkat Nabi Musa as dan dari unta Nabi Soleh as dan dari mukjizat-mukjizat lainnya. Lalu apakah rahsia yang menjadikannya lebih tinggi dari mukjizat-mukjizat sebelumnya?
Sebahagian menjawab bahwa mukjizat Al-Qur'an tersembunyi dalam :
  1. Ushlub dan gaya bahasanya.
  2. Cabaran terhadap seluruh umat manusia yang tidak mampu membuat yang semisal dengannya.
  3. Kesesuaian untuk setiap zaman, tempat dan masa.
Semua jawaban ini benar dari beberapa segi kemukjizatan Al-Qur'an, akan tetapi ada rahsia kemukjizatannya yang lebih besar iaitu dalam keajaibannya untuk mengubah. Mengubah manusia walau macam mana sekalipun dan dari lingkungan yang bagaimanapun sekalipun bahkan ia mengubah mereka menjadi manusia baru yang lebih ‘alim (berpengetahuan luas), ‘abid (tekun beribadah) dalam segala perkara dan keadaannya sehingga membentuk keperibadian yang digambarkan oleh Al-Qur'an :

"Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam"(QS Al-An'am : 162)

KEAJAIBAN ITU BERLAKU

Perubahan yang berlaku melalui Al-Qur'an bermula dari masuknya cahaya Al-Qur'an ke hati, maka setiap kali cahaya tersebut menerangi suatu bahagian dari bahagian-bahagian hati, kaburlah kegelapan yang disebabkan oleh kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Sedikit demi sedikit bertambahlah cahaya ke dalam hati dan merangkaklah kehidupan hati di setiap sisinya memulai hidup baru yang belum pernah berlaku sebelumnya.

Allah swt berfirman :
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia kami hidupkan dan kami berikan ia cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan dengan orang yang keadaannya berada dalam keadaan gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? (QS Al-An'am : 122)

Al-Qur'an merupakan Ruh yang menyebar dalam seluruh penjuru hati maka ia menghidupkan akan setiap hati yang mati. Allah SWT berfirman :

"Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur'an) dengan perintah kami . Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami tunjuki siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami". (QS As-Syura : 52)

Ketika Ruh tersebut melekat ke dalam hati dan setiap penjurunya dipenuhi dengan cahaya iman, maka ia mampu mengusir hawa nafsu dan rasa cinta terhadap dunia dan kemudiannya akan mempengaruhi perilaku seorang hamba dan tujuan hidupnya. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya ketika ia ditanya tentang makna 'insyirah shadr' (keterbukaan dada) dalam firmanNya :

"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS Az-Zumar : 22)

Nabi saw menjelaskan :
“Apabila cahaya iman masuk terbukalah hatinya” (untuk menerima kebenaran).”
Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apa ciri-cirinya?”

Rasulullah saw bersabda :
“Kerinduan kepada kampung keabadian, merasa jauh dari dunia yang menipu, bersiap-siap untuk menghadapi kematian sebelum ia datang."

KEHEBATAN MUKJIZAT ALQUR'AN

Allah swt berfirman :
"Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung ganang dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh kerananya, orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Qur'an itulah dia).”  (QS Ar Ra'ad : 31)

Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki pengaruh yang sangat kuat yang tidak mungkin kita bayangkan di mana Allah mengumpamakan kepada kita dengan suatu contoh :

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr : 21]

Gunung, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi :
“Apabila Al-Qur'an ini diwahyukan kepadanya dengan susunan dan gaya bahasa yang indah yang mengandungi pelajaran-pelajaran berharga, maka kamu akan melihat gunung yang keras dan kukuh itu pecah dan hancur berkeping-keping kerana rasa takut kepada Allah".

Dalam contoh di atas, kita diperintahkan untuk merenungkan kekuatan pengaruh yang dimiliki oleh Al-Qur'an agar menjadi hujjah bagi semua manusia dan mematahkan dalih orang-orang yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mentadabbur Al-Qur'an.

JIN PUN BERIMAN

Di antara bukti kemukjizatan Al-Qur'an dan kekuatannya yang dahsyat dalam mempengaruhi adalah sebagaimana yang berlaku terhadap sekelompok jin ketika ia mendengarkan ayat Al-Qur'an.
Allah swt berfirman :

"Dan ingatlah ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur'an , maka tatkala mereka mengghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: "Diamlah kamu untuk mendengarkannya". Ketika pembacaannya telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk memberi peringatan) mereka berkata : ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami , terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan ) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS Al-Ahqaaf : 29-32)

BUKTI NYATA YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN

Al-Qur'an memiliki pengaruh yang luar biasa pada setiap jiwa yang menyambutnya dan yang selalu berinteraksi dengan sebenar-benarnya dan menjadikannya sebagai petunjuk dan ubat.
Maka berlakulah perubahan yang besar-besaran dalam keperibadiannya, sebuah kehidupan dengan rancangan dan bentuk baru yang lebih dicintai dan diridhai oleh Allah swt.

Jika kita ragu akan hal ini, marilah kita lihat apa yang berlaku kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.
Mereka adalah orang-orang yang berada dalam kesesatan dan kejahiliyahan yang nyata sebelum mereka masuk Islam. Kemudian, dalam keadaan yang demikian mereka masuk ke dalam "Projek Al-Qur'an" dan kemudiannya keluar sebagai manusia-manusia baru yang menjadi kebanggaan umat manusia sampai saat ini.
Ini merupakan sesuatu yang menakjubkan sebagai bukti bagi kemampuan kitab ini untuk mengubah apa yang ada dalam jiwa seseorang sampai ke akarnya.

Kalau bukan demikian, siapa yang percaya bahwa sebuah umat yang hidup di tengah padang pasir, tidak mempunyai alas kaki, berpakaian sederhana, miskin, tidak dicatat dalam sejarah, yang dianggap remeh oleh kekuatan-kekuatan tamadun pada masa itu, apabila datangnya Al-Qur'an, ia :
  1. Mengubah dan membangun kembali keperibadian mereka dengan rancangan, bentuk, dan kehidupan yang benar-benar baru.
  2. Mengangkat cita-cita dan semangat putera-putera umat itu ke langit.
  3. Mengikatkan hati-hati mereka kepada Allah agar hanya Dialah menjadi satu-satunya tujuan.
Semua ini berlaku dalam waktu yang begitu singkat iaitu hanya dalam hitungan tahun, kafilah ini berubah dengan sangat dramatik. Maka apakah yang berlaku setelah itu? Janji Allah menjadi sesuatu yang nyata, sebagaimana yang dijanjikannya terhadap hamba-hamba-Nya ketika mereka telah menunaikan kewajiban untuk memperbaiki diri sendiri. Allah swt berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri apa yang ada dalam diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra'ad : 11)

Dalam hitungan tahun, muncullah sebuah kekuatan baru dari kegersangan padang pasir untuk menghancurkan dinasti-dinasti zalim. Bertukarlah timbangan kekuatan dan kemudian kepimpinan umat manusia beralih ke tangan mereka.
"Maka siapakah yang lebih menepati janji (selain) Allah?" (QS At-Taubah : 111)

BILA PERUBAHAN ITU BERLAKU?

Yang membuatkan Al-Qur'an mampu mengubah para sahabat Rasulullah saw secara drastik disebabkan :
  1. Interaksi yang baik antara Sahabat ra dengan Al-Qur'an setelah mereka mengetahui betapa berharganya Al-Qur'an dan mereka betul-betul memahami untuk apa Al-Qur'an diturunkan.
  2. Mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai guru sekaligus qudwah bagi mereka.
Sungguh, Rasulullah saw telah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dengan perilakunya dan men’shibghah’ kehidupannya dengan Al-Qur'an seakan-akan baginda adalah Al-Qur'an yang berjalan di muka bumi, membenci apa yang dibenci oleh Al-Qur'an dan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Al-Qur'an.
Rasulullah saw membaca Al-Qur'an dengan perlahan tidak tergesa-gesa, ia melantunkan dengan indah sebuah surah dalam Al-Qur'an sehingga dirasakan bacaannya lebih panjang dari surah itu sendiri.
Pernah Rasulullah saw qiyamullail sepanjang malam dengan mengulang-ulangi satu ayat dalam solatnya yang berbunyi :

"Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hambaMu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Maaidah : 118)

Bahkan kita akan terpegun kagum terhadap pengaruh Al-Qur'an yang sangat kuat ke atas diri Rasulullah saw ketika baginda memberitakan kepada kita :
"Surah Hud dan seumpamanya (Al-Haaqqah, Al-Ma'arij, At-Takwir dan Al-Qaariah ) telah membuat rambutku beruban sebelum waktunya."
Adapun pengaruh Al-Qur'an ke atas jiwa para sahabat radhiyallahuanhum, maka sebaik-baik bukti adalah ketika kehidupan mereka berganti dan tujuan berubah arah.
Jika kita ingin mengetahui kehidupan para sahabat dengan Al-Qur'an dan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur'an terhadap mereka, maka lihatlah Abbad bin Bisyr yang saling bergantian berjaga malam bersama Ammar bin Yasir dalam peperangan Dzaturriqa'.
Ia meminta Ammar dengan secara memaksa untuk tidur di awal malam agar ia dapat berjaga ketika ia melihat tempat tersebut aman, ia pun solat. Maka datanglah salah seorang musyrikin memanahnya, ia pun mencabutnya dan meneruskan solatnya. Kemudian musyrik tersebut melemparkan panahan yang kedua, ia cabut lagi dan menyempurnakan solatnya. Apabila datang panahan yang ketiga kalinya, maka ia cabut dan menghentikan tilawah kemudian ia ruku' dan membangunkan Ammar sambil sujud. Maka ketika Ammar menanyakan kenapa ia tidak membangunkannya sejak terlemparnya panahan yang pertama kali, ia pun menjawab :
"Sesungguhnya aku ketika itu sedang membaca satu surah dan aku tidak suka menghentikannya sampai aku menyempurnakannya, ketika terus menerus orang itu memanahku aku pun ruku' dan membangunkanmu. Demi Allah, kalau bukan kerana takut menyia-nyiakan perintah Rasulullah saw untuk menjaga perbatasan, tentu aku sudah terbunuh sebelum aku menghentikan bacaan atau menyelesaikannya."

BARAKAH AL-QUR'AN

Sesungguhnya, nilai keagungan Al-Qur'an itu terdapat pada makna-maknanya dan kemampuannya untuk :
  1. Mengadakan perubahan bagi pembacanya.
  2. Merancang kembali cara berfikir akalnya.
  3. Membangkitkan ruh dalam hatinya.
  4. Mendidik jiwanya agar tumbuh menjadi seorang yang alim kepada Allah.
  5. Beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan dengan bashirah mata hatinya.
Perkara di atas tidak akan benar-benar berlaku dengan hanya sekadar membaca sahaja, walaupun ia mengkhatamkannya beribu kali. Ini diperkuatkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum apabila dikatakan kepada Sayyidatina Aisyah ra :

“Sesungguhnya di antara orang-orang ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an dua atau tiga kali dalam satu malam”, ia pun berkata: “Mereka membacanya tapi sebenarnya mereka tidak membaca, sungguh Rasulullah saw solat tahajjud semalam penuh, beliau membaca surah Al-Baqarah disambung surat Ali Imran dan surah An-Nisa’ tidak melalui satu ayat pun tentang khabar gembira kecuali ia berdoa pada Allah memintanya, dan tidak melalui satu ayat pun tentang ancaman kecuali ia berdoa agar dijauhkan darinya”.
Dari Abi Jasrah ia berkata, aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur'an dengan cepat dan aku mengkhatamkannya dalam tiga hari”.

Ibnu Abbas pun berkata:

“Sungguh, membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam kemudian aku mentadabburnya dan aku tartilkan bacaannya, lebih aku sukai daripada aku membaca seperti yang kamu katakan.”
Ibnu Mas'ud berwasiat :
“Janganlah kau membaca Al-Qur'an secepat kau membaca sya’ir, atau seperti buah kurma yang berguguran dari tangkainya, berhenti dan renungkanlah keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hatimu dengannya dan janganlah menjadikan akhir surah sebagai pusat perhatianmu."
Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Imam Al-Ajri dalam bukunya ‘Akhlaq Hamalatil-Qur'an’ (Akhlaq Penghafal Al-Qur'an) :
“Sedikit mempelajari Al-Qur'an kemudian merenungkannya dan mentadabburnya lebih aku sukai daripada aku membaca banyak tanpa mentadabbur dan mentafakur, dan ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas menunjukkan demikian, begitu juga sunnah dan perkataan para pemimpin umat Islam”.
Imam Mujahid ditanya antara seseorang yang membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan seseorang yang membaca Al Baqarah sahaja dengan bacaan yang sama panjangnya, ruku' mereka sama, dan sujud mereka sama, mana antara mereka yang lebih utama?
Imam Mujahid pun berkata :

“(Yang lebih utama) yang membaca Al Baqarah sahaja, kemudian ia membaca :
“Dan Al-Qur'an itu kami turunkan secara beransur-ansur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia.” (QS Al-Isra’ : 106)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membaca dan mentadabbur Al-Qur’an sehingga ianya menambah kefahaman, memberi kesan kepada hati dan akhirnya mengubah kehidupan kami ke arah tujuan dan matlamat yang telah Engkau gariskan. Jauhkanlah kami dari sikap membaca secara harfiah semata-mata namun hati kami lalai dari memperhatikan dan merenung makna di sebalik ayat-ayat tersebut.

Pertubuhan IKRAM Malaysia